selamat membaca

semoga kalian dapat merefresh otak dengan blog ini

Rabu, 19 Oktober 2011

Sapon Binangun: Batik Show Room


di susun oleh :
ANI NULASARI
DWI NUR HIDAYATUN
SURIP SRI RAHAYU
WAHDATUN MUSLIKAH

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KULON PROGO
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGRI 1 LENDAH
TAHUN AJARAN 2011/2012



BAB I PENDAHULUAN

A.      LATAR  BELAKANG
Seni kriya tekstil merupakan salah satu jenis kriya yang cukup diminati  di kalangan masyarakat luas. Salah satu kriya tekstil yang paling diminati adalah batik yang belakangan telah diakui sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang seni batik maka kami melakukan Observasi atau penelitian tentang seni batik ke salah satu Show Room dikawasan Lendah yaitu Sapon Binangun.
B.      RUMUSAN MASALAH
“bagaiman cara pembuatan kriya tekstil batik ?”
C.      TUJUAN
Ø  Mengetahui cara pembuatan batik
Ø  Menambah wawasan tentang batik
Ø  Melengkapi tugas makalah sebelumnya
D.      MANFAAT
Ø  Dapat mengetahui cara pembuatan batik
Ø  Dapat menambah wawasan tentang batik
Ø  Dapat melengkapi tugas makalah sebelumnya


BAB II PENELITIAN

                    I.                   TUJUAN
Ø  Mengetahui cara pembuatan batik
Ø  Mengetahui lebih dalam tentang seni kriya batik
                  II.                   PERSIAPAN
1)             Menyiapkan peralatan wawancara
2)             Menyusun pertanyaan
a)             Siapa penggagas dan pemilik Kelompok Batik Tulis Sapon Binangun?
b)            Siapa  yang mengajarkan membatik warga ?
c)             Apa saja yang perlu di persiapkan untuk membatik?
d)            Bagaimana cara membuat  batik?
e)            Apa harapan kedepan untuk uasaha ini?

                III.                   PELAKSANAAN
Dilaksanakan pada
             hari            : Minggu
tanggal     : 25 September  2011
waktu       : Pukul 11.00-13.00 WIB
tempat     : Show Room Kelompok Batik Tulis “Sapon Binangun”

BAB III HASIL PENELITIAN



Narasumber                       : Ibu Ponikem
Pewawancara                    : Ani Nulasari
Dwi Nur Hidayatun
Surip Sri Rahayu
Wahdatun Muslikah
 Dilaksanakan pada            :
                                                  hari                      : minggu
                                                  tanggal               : 25 September  2011
  waktu                 : pukul 11.00-13.00 WIB
  tempat               : show room kelompok batik tulis “sapon Binangun”
Hasil wawancara                 :
Sapon binangun merupakan kelompok batik tulis spesialis pewarna alam. Sapon binangun terletak di dusun Sapon, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo. Sapon Binangun merupakan hasil pelatihan dari gtz Jerman yang didirikan oleh Ibu Rina Wati. Pembimbing usaha batik ini adalah Ibu Kartini yang juga merupakan seorang pengrajin batik tulis.
Kelompok batik tulis ini dibuat untuk meneruskan budaya dusun tersebut yang sejak kecil telah terbiasa membatik. Selain itu juga untuk menampung pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan. Untuk saat ini staff administrative kelomok batik tulis Sapon Binangun  sekitar 11 orang.
Dalam pembuatannya mereka mebutuhkan sekitar 20 juta sebagai modal untuk menyediakan saran dan prasarana. Alat dan bahan yang harus dipersiapkan sebelum membatik adalah :


1.       Kertas minyak untuk membuat pola /design
2.       Pesil & sepidol untuk menggambar pola
3.       Canting
4.       Kain mori
5.       Malam
6.       Wajan
7.       Kompor
8.       Minyak tanah
9.       Baskom
10.   Ember
11.   Dandang
12.   Pewarna alam
13.   Air
14.   Gamping
15.   Soda


Adapun cara membuat batik adalh sebagai berikut :

Langkah prtama
Langkah pertama adalah membuat design batik dengan menggunakan kertas minyak sebelum disalin pada kain. Motif yang biasa digunakan adalah motif sido luhur, sekar jagad, dan ceplok burungatau motif kombinasi yang lain.

Langkah kedua
Menyalin design pada kain mori menggunakan pensil. Pola tersebut kemudian ditebalkan menggunakan malam. Malam yang baik adalah malam yang lunak dan tidak memiliki serat didalamnya. Malam ada dua jenis yaitu malam hitam dan malam putih atau parafin.

Langkah ketiga
Mengisi pola yang telah ditebalkan dengan malam dengan isen-isen hingga penuh . Canthing yang digunakan adalah canthing dengan lubang paling kecil atau cecek .

Langkah keempat
Pewarnaan menggunakan pewarna alam berupa :
1)      Kayu mahoni menghasilkan warna hitam atau coklat
2)      Kayu tegeran menghasilkan warna kuning
3)      Indigo dari daun oro-oro yang menghasilkan warna biru atau hijau
4)      Jambal yang menghasilkan warna coklat
Karena menggunakan pewarna alami maka membutuhkan soda dan gambing sebagai pengunci dan penguatwarna.
Cara mewarnai adalah pewarna tersebut dimasak hingga mendidih dan didiamkan dalam waktu satu malam. Setela itu keesokan harinya digunakan untuk mewarnai dengan cara di celupkan selama 10 menit. Setelah itu diangin-anginkan hingga kering. Hal ini di ulang 5 hingga 20 kali.
Apabila telah selesai pewarnaan satu warna maka dilakukan lorodan atau penghilangan malam dengan memasukkan kain kedalam air mendidih supaya malam didalamnya luntur.
Apabila menghendaki pewarnaan lagi atau warna lebih dari dua warna maka bagian yang sudah diwarnai atau tidak ingin di warnai  ditutupi kembali dengan malam menggunakan canthing tembokkan.
Langkah kelima
Pengeringan dan pengemasan dilakukan supaya batik yang dibuat tidak rusak. Agar menjaga keawetan dan warna batik maka  harus dicuci dengan  biji lerak. Yaitu biji  yang mirip dengan biji salak yang digunakan untuk mencuci pada jaman dahulu  dan batik  dikeringkan di tempat yang sejuk atau di angin-anginkan agar warnanya tidak pudar
Penutup
Demikian laporan penelitian ini kami buat semoga dapat memenuhi tugas yang telah diberikan.
§  Kesan pesan
Dalam menjalankan penelitian ini kami merasa senang karena dapat mempelajari batik secara lebih dekat. Kami berpesan kepada generasi muda agar melestarikan budaya asli indonesia agar tidak punah.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar